Ku langkahkan pelan kakiku, dan berhenti tepat di pintu yg masih tertutup rapat itu. Ku intip dari jendela yg gelap, sepertinya dalam rumah itu sepi, akhirnya aku memutuskan untuk lewat pintu samping yg hanya diselot saja. Kubuka pintu pelan, agar suaranya tak terdengar berdenyit. Ku langkahkan kaki ke dalam, ku intip ruangan samping. Sepi. Ku teruskan langkah ku ke dalam dan masuk rumah tersebut lewat dapur.
" kamu sakit yang?" tanyaku karena melihatnya sedang terbaring dan dipijat oleh lelaki paruh baya.
" aku gak enak badan,yang. Pusing kepalanya" jawab Rio, kekasihku.
" kamu masuk angin kali, yang. Kirain aku, kamu masih tidur" ku dekatkan diri untuk menyentuh wajahnya, agak panas badannya dan matanya pun terlihat sayu. " udah makan belom"
" belum, yang. aku baru bangun terus langsung minta dipijitin. Kamu gak kuliah?" tanyanya sambil memakai bajunya
" udah pulang "
" aku mandi dulu yah. kamu kalo mau minum ambil aja di kulkas"
setelah lima belas menit kemudian, Rio selesai mandi. " kangen kamu" katanya sambil memelekku dari belakang, tercium aroma wangi tubuhnya dan aroma wangi sabun. aku suka sekali percampuran kedua wangi itu, membuatku lebih nyaman.
" aku juga kangen kamu" balasku sambil mengencngkan pelukannya. "aku ambilin kamu makan yah, sayang abis itu kamu minum obat."
" iyah yang"
aku pun segera bergerak ke ruang makan mengambil piring dan menyendokkan nasi untuknya setelah itu membawakan segelas air. Hal ini sudah sering aku lakukan untuknya, semacam kebiasaan untukku melayaninya makan.
Rio makan dengan lahap dan kami mengobrol sambil menonton tv. Aku yg sedang iseng mengambil hpnya dan melihat foto-fotonya sampai tiba-tiba aku berhenti di satu foto. diam tertegun dan berfikir.
" ini siapa yang?" tanyaku
Rio yg sudah selesai makan langsung melihat dan menjawab "itu anaknya tetangga sebelah"
Jawaban yg sangat tidak masuk akal bagiku, " kamu yakin?" tanyaku tegas.
Rio mengalihkan pandangan dan mengambil sebatang rokok. Menghisap pelan dan dalam rokok tersebut, persis seperti orang yg sedang mencari insipirasi, sementara itu aku mengutak atik foto tersebut, dan aku sadar aku mengenal siapa yg ada di foto itu. " ini bukannya tyas yang?"
kemudian Rio menjawab " iya itu tyas"
Ku taro hpnya dan kemudian diam, tanpa kata. Kukuatkan hati untuk tidak menangis, tapi hati ini terlalu lemah. dan kami pun sama-sama terdiam.
" kamu sakit yang?" tanyaku karena melihatnya sedang terbaring dan dipijat oleh lelaki paruh baya.
" aku gak enak badan,yang. Pusing kepalanya" jawab Rio, kekasihku.
" kamu masuk angin kali, yang. Kirain aku, kamu masih tidur" ku dekatkan diri untuk menyentuh wajahnya, agak panas badannya dan matanya pun terlihat sayu. " udah makan belom"
" belum, yang. aku baru bangun terus langsung minta dipijitin. Kamu gak kuliah?" tanyanya sambil memakai bajunya
" udah pulang "
" aku mandi dulu yah. kamu kalo mau minum ambil aja di kulkas"
setelah lima belas menit kemudian, Rio selesai mandi. " kangen kamu" katanya sambil memelekku dari belakang, tercium aroma wangi tubuhnya dan aroma wangi sabun. aku suka sekali percampuran kedua wangi itu, membuatku lebih nyaman.
" aku juga kangen kamu" balasku sambil mengencngkan pelukannya. "aku ambilin kamu makan yah, sayang abis itu kamu minum obat."
" iyah yang"
aku pun segera bergerak ke ruang makan mengambil piring dan menyendokkan nasi untuknya setelah itu membawakan segelas air. Hal ini sudah sering aku lakukan untuknya, semacam kebiasaan untukku melayaninya makan.
Rio makan dengan lahap dan kami mengobrol sambil menonton tv. Aku yg sedang iseng mengambil hpnya dan melihat foto-fotonya sampai tiba-tiba aku berhenti di satu foto. diam tertegun dan berfikir.
" ini siapa yang?" tanyaku
Rio yg sudah selesai makan langsung melihat dan menjawab "itu anaknya tetangga sebelah"
Jawaban yg sangat tidak masuk akal bagiku, " kamu yakin?" tanyaku tegas.
Rio mengalihkan pandangan dan mengambil sebatang rokok. Menghisap pelan dan dalam rokok tersebut, persis seperti orang yg sedang mencari insipirasi, sementara itu aku mengutak atik foto tersebut, dan aku sadar aku mengenal siapa yg ada di foto itu. " ini bukannya tyas yang?"
kemudian Rio menjawab " iya itu tyas"
Ku taro hpnya dan kemudian diam, tanpa kata. Kukuatkan hati untuk tidak menangis, tapi hati ini terlalu lemah. dan kami pun sama-sama terdiam.
**to be continued**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar