25 Desember 2011

Dia atau Diriku (part II)

Kami sama-sama terdiam, kuusap air mata ini "kamu kenapa bohong sama aku? ada apa kamu sama tyas?" tanyaku dengan suara bergetar. Tyas, seorang cewek yg aku tahu, dulu juga pernah membuat hubungan kami renggang. Membuat Rio tergoda, disaat hubungan kami dalam masa sulit. Jadi, saat ada hal yg berhubungan dengannya, aku segera sigap dengan situasi.

"aku gak ada hubungan apa-apa sama dy ko"

"terus kenapa kamu bisa foto bedua sama dy?"

Rio kembali terdiam, "dia dateng ke rumah dianter Rama terus pulangnya aku yg anter ke depan" Rama adalah temen basketnya Rio yg biasa datang ke rumah, Rio memang senang kumpul dengan tim basketnya yg baru di rumahnya dan Tyas salah satu point guardnya tim cewe basket yg kebetulan dekat dengan Rama, dari situlah Rio kenal dengan Tyas.

"kalo dia dateng sama Rama, ngapain harus kamu yg anterin pulang?" tanyaku dengan nada yg sedikit naik.

Rio hanya diam, aku pun gak kuat nahan gemuruh dan sakit di dada ini. Tangis terus mengalir dan sulit berhenti "aku pulang!! kamu udah bohong sama aku" segera ku bereskan tas dan lari keluar rumah, rio langsung menarik tanganku.

"aku gak ada apa-apa sama dia,yang. kamu jangan pulang, nanti aku anterin yah"

"jelasin sama aku yg sebenernya, Rio!! kalo emang kamu gk ada apa-apa sama dy, ayo kita buktiin, kita samperin ke rumahnya"

"buat apa?"

"buat bukti aku, kalo emang kamu gak ada apa-apa" Rio terpaku. Aku mengahmpirinya dan memegang wajahnya, kudekatkan wajahku ke wajahnya. "kamu jujur sama aku sayang, walaupun kejujuran itu memang sakit untukku" kuusap wajahnya perlahan. Ahhh.. hati ini tak sanggup melihat wajahnya yg begitu layu. aku tahu jawaban apa yg akan aku dapatkan.

"aku jadian sama tyas" jawabnya kelu.

Iyah.. jawaban itu!! Jawaban yg sudah siap tuk kudengarkan dari bibirnya yg tipis. Tanpa banyak kata, kucium pipi dan keningnya "kamu baik-baik yah sama dia, aku sayang banget sama kamu"

tanpa melihat pandangan ke depan aku pun berlari baru saja beberapa meter dr pintu rumahnya, heels ku yg berukuran 7cm membuatku terkilir, dan aku pun jatuh.

"Zaskia!!" rio langsung menghampiriku dan menggendongku untuk bangun. Kakiku terasa sakit sekali. Rio memelukku erat, "jangan pulang, zas. maafin aku" pelukannya semakin erat dan air mataku semakin banyak. Ku menangis di pelukannya, kutumpahkan semua air mata yg membuat dada ini sakit. Tak lama kemudian bahu rio bergetar "maafin aku, yang. Aku salah. aku sayang banget sama kamu." dan kulihat wajah rio memerah lalu air matanya pun turun.
Aku tidak pernah tega melihat seorang lelaki menangis. Terlebih lelaki yg sangat kucintai. Ku peluk erat wajahnya. Bahu Rio semakin bergetar. Kuusap air mata di wajahnya.

"aku sayang banget sama kamu rio, tapi kamu harus memilih dia atau aku?? aku gak bisa kalo hati kamu terbagi buat yg lain." bisikku di telinganya.

"maafin aku zas, aku juga sayang banget sama kamu. jangan tinggalin aku sayang"

"aku gak pernah punya niat sedikitpun untuk ninggalin kamu, tapi aku bisa kalo kamu mendua, kamu harus membuat keputusan, sayang" kuusap wajahnya, ku belai rambutnya dan ke kecup keningnya. Air mata rio kembali turun.

"iya, aku pilih kamu. maafin aku udah ngecewain kamu. Aku sayang banget sama kamu,zas"
Rio pun memelukku erat. kubenamkan wajahku didadanya.

Dalam hati ku berkata "Tuhan, aku amat mencintainya. salahkah aku jika memberinya kesempatan kedua? Tunjukkanlah jalamu, Tuhan. Aku bisa memaafkannya karena Engkau pun bisa memafkaan kesalahan umatMu. Tuhan jagalah lelaki ini untukku. Berilah ia selalu kebahagiaan dan lindungilah dirinya dimanapun ia berada"

***




24 Desember 2011

Dia atau Diriku

Ku langkahkan pelan kakiku, dan berhenti tepat di pintu yg masih tertutup rapat itu. Ku intip dari jendela yg gelap, sepertinya dalam rumah itu sepi, akhirnya aku memutuskan untuk lewat pintu samping yg hanya diselot saja. Kubuka pintu pelan, agar suaranya tak terdengar berdenyit. Ku langkahkan kaki ke dalam, ku intip ruangan samping. Sepi. Ku teruskan langkah ku ke dalam dan masuk rumah tersebut lewat dapur.

" kamu sakit yang?" tanyaku karena melihatnya sedang terbaring dan dipijat oleh lelaki paruh baya.

" aku gak enak badan,yang. Pusing kepalanya" jawab Rio, kekasihku.

" kamu masuk angin kali, yang. Kirain aku, kamu masih tidur" ku dekatkan diri untuk menyentuh wajahnya, agak panas badannya dan matanya pun terlihat sayu. " udah makan belom"

" belum, yang. aku baru bangun terus langsung minta dipijitin. Kamu gak kuliah?" tanyanya sambil memakai bajunya

" udah pulang "

" aku mandi dulu yah. kamu kalo mau minum ambil aja di kulkas"

setelah lima belas menit kemudian, Rio selesai mandi. " kangen kamu" katanya sambil memelekku dari belakang, tercium aroma wangi tubuhnya dan aroma wangi sabun. aku suka sekali percampuran kedua wangi itu, membuatku lebih nyaman.

" aku juga kangen kamu" balasku sambil mengencngkan pelukannya. "aku ambilin kamu makan yah, sayang abis itu kamu minum obat."

" iyah yang"

aku pun segera bergerak ke ruang makan mengambil piring dan menyendokkan nasi untuknya setelah itu membawakan segelas air. Hal ini sudah sering aku lakukan untuknya, semacam kebiasaan untukku melayaninya makan.

Rio makan dengan lahap dan kami mengobrol sambil menonton tv. Aku yg sedang iseng mengambil hpnya dan melihat foto-fotonya sampai tiba-tiba aku berhenti di satu foto. diam tertegun dan berfikir.

" ini siapa yang?" tanyaku

Rio yg sudah selesai makan langsung melihat dan menjawab "itu anaknya tetangga sebelah"

Jawaban yg sangat tidak masuk akal bagiku, " kamu yakin?" tanyaku tegas.

Rio mengalihkan pandangan dan mengambil sebatang rokok. Menghisap pelan dan dalam rokok tersebut, persis seperti orang yg sedang mencari insipirasi, sementara itu aku mengutak atik foto tersebut, dan aku sadar aku mengenal siapa yg ada di foto itu. " ini bukannya tyas yang?"

kemudian Rio menjawab " iya itu tyas"

Ku taro hpnya dan kemudian diam, tanpa kata. Kukuatkan hati untuk tidak menangis, tapi hati ini terlalu lemah. dan kami pun sama-sama terdiam.


**to be continued**